google.com, pub-4064548356422730, DIRECT, f08c47fec0942fa0 PELAJARAN SEKOLAH

NASKAH DRAMA PROKLAMASI KEMERDEKAAN



          Awal kisah, pada tanggal 6 Agustus 1945, di Studio Radio BBC London. Sutan Syahrir sedang mendengarkan siaran radio. Beliau sedang mendengarkan informasi terkini dari Nippon suatu saat yang membuat beliau tersentak.
Siaran Radio         : “Sekutu mengebom kota Hiroshima, Jepang. Diperkirakan   akan ada pengeboman kembali.”
Sutan Syahrir        : “Apa? Nippon dibom? Harus kutemui golongan tua untuk menyampaikan berita ini.”
Ketika Sutan Syahrir bertemu dengan Seokarno.
Sutan Syahrir        : “Pak Seokarno, kota Hiroshima telah dibom oleh sekutu. Ada berita lain bahwa Nippon akan diserang lagi.”
Ahmad Soebardjo : “Begitukah? Baiklah, terus kabari berita terbaru tentang Nippon.”
          Pada tanggal 9 Agustus 1945, di Studio Radio BBC London, Sutan Syahrir kembali menerima informasi tentang Nippon yang membuat hatinya kaget.
Siaran Radio         : “Nippon kembali diserang. Kota Nagasaki menjadi sasaran. Kini Nippon tidak lagi berdaya di depan sekutu.”
Sutan Syahrir        : “Berita ini harus disampaikan kepada golongan tua.”
Ahmad Soebardjo : “Ada apa? Ada berita apa? Laporkan sekarang! Nanti akan saya sampaikan kepada Pak Soekarno jika sudah datang.”
Sutan Syahrir        : “Kota Nagasaki telah dibom oleh sekutu. Nippon melemah, mungkin ini waktunya kita mepersiapkan kemerdekaan.”
Ahmad Soebardjo : “Benarkah? Tapi jangan bertindak gegabah, tunggu dulu, Nippon juga masih kuat. Nyatanya mereka belum kalah.”
Sutan Syahrir        : “Baiklah...”
Sutan Syahrir menunggu kabar dari radio sampai tanggal 15 Agustus 1945. Tiba – tiba ada kabar mengejutkan yang membuat senang Sutan Syahrir.
Siaran Radio         : “Nippon telah mengalami kerusakan parah di kotanya. Dengan itu Nippon menyerah tanpa syarat kepada sekutu.”
Sutan Syahrir        : “Nippon telah kalah??? Ini adalah kesempatan bangsa Indonesia untuk memproklamasi kemerdekaan bangsa ini. Tapi karena Soekarno baru datang dari Vietnam, lebih baik besok saja kusampaikan berita ini.”
Pada tanggal 16 Agustus 1945, Sutan Syahrir mengumumkan berita kekalahan Jepang kepada seluruh warga. Di Kediaman Soekarno-Hatta, Sutan Syahrir dan beberapa golongan muda datang membicarakan tentang kekalahan Jepang.
Sutan Syahrir        : “Pak Soekarno, bagaimana kalau bangsa kita cepat – cepat dimerdekakan? Jika tidak bangsa kita akan dijajah kembali.”
Soekarno              : “Jangan dulu... kita harus menunggu berita resmi dari Pemerintah Nippon terlebih dahulu. Jika tidak begitu, kita akan disiksa dan diserang oleh Nippon.”
Soekarni               : “Buat apa menunggu lagi? Nippon telah kalah. Mereka tidak bisa apa – apa. Lebih baik sekarang kita persiapkan kemerdekaan bangsa kita.”
M. Hatta               : “Meskipun Nippon telah kalah dari sekutu, tapi mereka belum menyerahkan kekuasaannya atas bangsa Indonesia. Kita belum bisa memerdekakan bangsa ini.”
Wikana                 : “Cepatlah... nanti terlambat kita memerdekakan bangsa ini.”
Ahmad Soebardjo : “Tidak bisa... mereka masih memiliki hak sepenuhnya atas bangsa Indonesia. Kita tidak bisa melawannya...”
Chaerul Saleh       : “Hak mereka apa? Apa mereka punya hak penuh atas bangsa ini? Kita yang punya hak penuh bukan mereka. Kita yang tinggal di tanah ini tapi kenapa orang lain yang punya hak, kenapa bukan kita? Jadi, kenapa ditunda – tunda lagi, lebih baik sekarang kita persiapkan kemerdekaan bangsa kita.”
Keadaan semakin kacau, golongan muda bersikeras untuk mempersiapkan kemerdekaan. Sedangkan golongan tua bersikeras menunda kemerdekaan. Dengan itu para golongan muda mengadakan pertemuan, hasil dari pertemuan itu adalah mendesak Soekarno-Hatta untuk memerdekakan bangsa Indonesia.
Wikana                 : “Cepatlah memerdekakan Indonesia, jika tidak mau anda berdua harus ikut kami.”
Soekarno              : “Apa alasan anda, para golongon muda membawa kami pergi. Dan akan kaubawa kemana kami?”
Wikana                 : “Supaya anda tidak dipengaruhi oleh Pemerintah Nippon. Masalah kemana itu tidak penting”
            Golongan muda membawa pergi Soekarno-Hatta ke Rengas Dengklok. Sesampainya di sana, Soekarno-Hatta terus diberikan suatu ancaman untuk memerdekakan negeri ini. Sampai suatu ketika.
Chaerul Saleh       : “Mereka masih belum menerima kekalahan Nippon. Mereka masih terpengaruh oleh kekuasaan Pemerintahan Nippon. Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus berunding dengan para golongan tua.”
Soekarni               : “Setuju... kita harus bertemu dengan golongan tua secepatnya.”
Akhirnya, para golongan muda dan golongan tua berkumpul merunding- kan tentang pembebasan Soekarno-Hatta sekaligus persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Ahmad Soebardjo : “Wikana, Sukarni, dan Chaerul Saleh, apa hal kalian menculik Soekarno-Hatta dan membawanya ke Rengas Dengklok?”
Soekarni               : “Kami membawa mereka, agar mereka tidak terpengaruh terhadap Pemerintahan Nippon. Dan agar ingin memerdekakan negeri ini. Bukankah kita telah melakukan banyak persiapan dahulu? Apa gunanya Dokuritzu Junbi Cosakai dan Dokuritzu Junbi Inkai? Bukankah untuk mempersiapkan kemerdekaan negeri ini? Bukankah kita selalu mengidam – idamkan suatu kemerdekaan? Tapi mengapa para golongan tua tidak ingin melakukannya sekarang?”
Ahmad Soebardjo : ‘Saya tahu masalah itu. Semua yang anda katakan itu benar. Kami memang menginginkan kemerdekaan. Tapi ini belum saatnya.”
Moh. Yamin         : “Ya, Tidakkah anda tahu, Nippon memang telah kalah dari sekutu, tapi mereka belum menyerahkan kekuasaannya. Meskipun mereka telah mengeluarkan ribuan janji untuk memperbolehkan kemerdekaan kita, tapi nyatanya janji itu hanya janji palsu belaka. Tidak mungkin mereka akan memerdekakan negeri kita ini.”
Chaerul Saleh       : “Pokoknya, kita harus memproklamasikan kemerdekaan negeri ini besok. Titik. Itu adalah kesepakatan para golongan muda.”
Ahmad Soebardjo : “Kalau itu mau kalian, baiklah. Tapi bebaskan dulu Soekarno-Hatta, karena hanya mereka yang dapat memimpin Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.”
Soekarni               : “Masalah tersebut sudah diatasi. Saudara Darwis akan menjemput mereka.”
Ahmad Soebardjo : “Tunggu dulu, aku ikut dengan kalian. Dan beri sedikit waktu untuk bicara dengan Pak Yamin.”
Moh. Yamin         : “Apa anda telah memikirkan keputusan ini masak – masak? Ini bukanlah keputusan ringan. Ini menyangkut tentang negeri ini.”
Ahmad Soebardjo : “Sudahlah. Mereka juga benar, kita menginginkan kemerdekaan, tapi ketika ada waktu malah diam saja. Lagipula, keputusan ini akan disambut baik oleh masyarakat Indonesia.”
Moh. Yamin         : “Baiklah kalau begitu, saya juga tidak bisa menolak.”
Ahmad Soebardjo : “Ya sudah, saya pergi dahulu. Assalamu’alaikum.”
Moh. Yamin         : “Wa’alaikumussalam.”
Akhirnya mereka menjemput Soekarno-Hatta ke Rengas Dengklok. Sesampainya di sana banyak persiapan menjelang kemerdekaan. Semua telah sibuk dengan pekerjaannya masing – masing.
Di malam itu, Soekarno bingung harus membicarakan proklamasi dimana. Karena tidak ada tempat. Akhirnya, dipilihlah rumah Laksamana Maeda.
Soekarno              : (mengetuk pintu)
Laks. Maeda         : “Apa hal kalian datang kemari?”
Soekarno              : “Maaf mengganggu anda, kalau bisa kami akan meminjam ruangannya untuk membicarakan proklamasi kemerdekaan untuk esok hari.”
Laks. Maeda         : “Jadi besok akan ada proklamasi? Baiklah silahkan masuk.”
Ahmad Soebardjo : (bicara dengan Soekarno) “Lebih baik, Anda dan Pak Hatta saja yang masuk membicarakan hal ini, kami akan menunggu di luar.”
Soekarno              : “Tapi kami berdua butuh anda Pak Soebardjo. Lebih baik anda ikut.”
          Setelah beberapa lama kemudian, Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo keluar dan mengumumkan hasil diskusi mereka. Tapi ada ketidaksesuaian antara pendapat Soekarno dan warga. Akhirnya menurut pemikiran yang matang, diubahlah rancangan proklamasi tersebut.
          Setelah itu, Soekarno memanggil Sayuti Melik untuk mengetik naskah teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang telah dibuatnya.
Soekarno              : “Pak Sayuti, saya telah membuat konsep teks proklamasi. Bisakah anda mengetiknya?”
Sayuti Melik         : “Saya sangat senang diberikan suatu kepercayaan dari anda. Saya akan menjalankan tugas dengan baik.”
Soekarno              : “Bagus. Kalau begitu laksanakan.”
Soekarno juga memanggil istri pertamanya, Fatmawati.
Soekarno              : “Istriku, sekarang bangsa kita akan merdeka, tapi bangsa ini belum punya bendera. Tolong buatkan dan jahitkan sebuah bendera. Kalau bisa secepatnya.”
Fatmawati            : “Baiklah, suamiku. Akan saya buat secepatnya. Tapi, saya hanya memiliki kain merah dan putih. Itupun dari baju bekasku.”
Soekarno              : “Tak apa. Buatlah bendera yang sederhana. Ya sudah aku pergi dulu. Doakan negeri ini agar tentram esok hari.”
Fatmawati            : “Ya, aku selalu berdoa untukmu dan negeri ini.”
Soekarno                ; “Ya, terima kasih...”
Hari jum’at pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB Di Jln. Pegangsaan timur No.56, dilangsungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.                                                                                                              
Sesaat sebelum upacara di mulai.
Soekarno              : “Trimurti, tolong anda kibarkan bendera merah putih ini  sebagai tanda kejayaan bangsa ini.” (sambil menyerahkan bendera)
Trimurti                : “Siap, bung. Saya akan menyuruh anak didik saya untuk       mengibarkanya. Hai kalian! Kalian mendapat kerhomatan untuk mengibarkan Bendera ini  untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia.”
Latief dan Suhud  : “Siap, komandan! Kami tak akan mengecewakan anda.”
Tiba  saatnya upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia...
Tokoh – tokoh pejuang Indonesia telah hadir di lokasi. Di antaranya yaitu Mr. A.A. Maramis, H.O.S. Cokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantara, M. Tabrani, dll.
Suasana menjadi sangat hening. Soekarno dan Hatta dipersilahkan maju beberapa langkah dari tempat semula. Soekarno mendekati Mikrofon. Dengan suara lantang dan mantap, Soekarno membacakan pidato pendahuluan sebelum beliau membacakan teks proklamasi.

(Pidato Soekarno) :









          “Saudara-saudara sekalian ! Saya telah meminta sudara untuk hadir disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita.Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk merdeka. Bahkan telah berates-ratus tahun lamanya, gelombang aksi kita tidak putus dalam berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh bangun menyusun kekuatan untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari penjajahan bangsa lain. Semalan, kami para pemuda-pemuda rakyat Indonesia dari berbagai penjuru bergabung untuk memusyawarahkan dan permusyawaratan itu seiya-sekata berkata : inilah saatnya bagi kita untuk mengobarkan api revolusi kemerdekaan Indonesia.saudara sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami :  

 

(Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan) :



Kemudian dibarkanlah bendera Sang Saka Merah Putih dengan diiringi Lagu Indonesia Raya. Para hadirin turut menyanyikan lagu ini.
          Peristiwa Proklamasi ini memang hanya berlangsung sebentar. Namun, peristiwa ini telah mengubah segala sendi kehidupan bangsa Indonesia. Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan telah menjadi momentum puncak perjuangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai gnerasi penerus bangsa Indonesia harus berprestasi dalam rangka mengisi kemerdekaan tersebut, bukan malah menodainya. Kita harus bisa membalas budi para pejuang tanah air zaman dahulu dengan cara mempertahankan negeri ini dan membawa nama harum bangsa Indonesia ke kancah Internasional.

Carita Basa Sunda Azab


AZAB
          Dina hiji poé kaping 17 sasih November imah milik Kaluarga Kang disita ku pihak bank. Kabéh parabotan nu aya di imah éta disita ku pihak ku bank.
Kang Daniel          :   “Pa, tong sita imah abdi, engke kumaha nasib kaluarga abdi ?”
Pa Kim                 : “Abdi ngan ngajalankeun tugas wungkul.” (Pa Kim                   ngaisyaratkeun ka bawahanna abéh nyita sakabéh parabotanna)
LeeSumiyati         : “Pa mohon bere abdi kasempatan supados abdi bisa ngalunaskeun kabéh nganjukkan abdi, abdi jangji bakal ngalunaskeun anjukan abdi.”
Pa Ohh                  :   “Jangji-jangji, ari sia jangji jangji wae !”
         
          Saeunggeusna kabéh parabotan geus diangkut ka mobil jeung sakabéh anggota Kaluarga Kang ngan ukur tiasa sedih kana nassib sorangan. Akhirna Kaluarga Kang mutuskeun angkat ka lembur, saenggeusna jeung sisa acis nu aya Kaluarga Kang ngabuka usaha ngawarung.
          Dina hiji waktos Lee Sumiyati ngarasa kaayaan ekonomi kaluargana makin nurun, komodeui ayana warung sabeulah anu leuwih laku.
Park Rosencoh      : “Aya warung anyar di sabeulah lain?”
Park Yukintih       : “Heueuh, aya warung anyar di sabeulah yeuh.”
          Teras, datang anu meuli nyaeta Ustad Kim Aziz.
Pa Ustad               : “Assalamualaikum,  astagfirullahaladzim ibu-ibu keur   ngagosipnya?”
Park Rosencoh      : “Waalaikumsalam, Pa Ustad teu ah !!.Kangge meuli naon Pa ?”
jeung Park Yukintih
Pa Ustad               : “Hoyong meuli béas 5 liter Teh Encoh.”
Park Yukintih       : “Béasna keur kosong, cobi di warung sabeulah Pa Ustad.”
          Akhirna Pa Ustad mios ka warung sabeulah bari nyapa tatangga anyar.
Pa Ustad               : “Assalamualaikum, punten aya béas teu ?”
Kang Daniel          : “Aya rék baraha liter ?”
Pa Ustad               : “5 liter weh.”
Kang Daniel          : “Oohh, nya.” (Diem-diem ngurangan takaran béasna)
Pa Ustad               : “Bapa tatangga anyarnya ?”
LeeSumiyati       : “Enya abdi sakaluarga anyar pindah kadieu.” (Bari ngabantu   ngurangan takaran béas bari susulumputan)
Kang Daniel          : “Ieu Pa Ustad beasna 50000 eun.”
Pa Ustad               : “Oohh nya ieu acisna pa, hatur nuhunnya.”

          Saeunggeus Pa Ustad mulih Kang Daniel jeung Lee Sumiyati ngobrol di imah.
Yoonayati             : “Daddy, abdi hoyong Hp anyar atuh.”
Lee Sumiyati        : “Ari sia !! Menta Hp deui wae. Nu kamari ge can lunas.”
Kang Daniel           : “Ari maneh meulikeun budak sambarangan, geus nyaho duit na keur euweuh.”
Lee Sumiyati         : “Ari maneh nyalahkeun urang ? Budak maneh tah nu manja.”
Kang Daniel          : “Maneh meureun nu manjakeun.”
Lee Sumiyati         : “Budak kos kitu di belaan.”
          Di balik éta teh, Marsha keur ceurik dina kamar geus éta lanceukna ngadatangan sambari aambeukan.
Lisayati                 : “Gara-gara maneh sagala menta Hp sihh !!!”
Jennieyati              : “Maneh sagala menta Hp, mantak kos kieu pan.”
Yoonayati             : “Kok gara-gara abdi sihh.”

         
Balik ka Kang Daniel jeung Lee Sumiyati.
Kang Daniel          : “Pan éta anak maneh ogé.”
Lee Sumiyati        : “Oh enya poho, iye teh sababna maneh ogé lain na gawe nu bener supados ngahasilkeun duit malah cicing waé di imah.”
Kang Daniel          : “Ari maneh teh teu nyaho iye teh keur lieur, iye urang keur mikir kumaha ngahasilan acis nu loba.”
Lee Sumiyati        : “Engges ngepet weh ngepet.” (Lee Sumiyati ngajawab asal)
Kang Daniel          : “Oh heeuh nya ngepet weh ah !!”
Lee Sumiyati        : “Enya ngepet weh abéh meunang duit loba.”
Kang Daniel          : “Ayuukk..”

          Wengi éta Kang Daniel jeung Lee Sumiyati datang ka dukun, nepi ka éta tempat manehna langsung ngetok panto.
Mbah Mangset      : “Rek naon maneh ka dieu ?”
Kang Daniel          : “Punten Mbah Mangset abdi bade menta tulung keur ngepet.”
Mbah Mangset      : “Rek mere naon ari urang ngabantuan anjeun ?”
    Lee Sumiyati        : “Memangna Mbah arek naon ? urang rek meré naon wae asalan urang kaya.”
Mbah Mangset      : “Alus ari manek rék mere naon wae, ngan aya syarat anu kudu di lakukeun !”
Babarengan           : “Enya mbah ari kos kitu mah.”
Mbah Mangset      : “Saratna maneh kudu mawa jubah hideung jeung nyapkeun satu tumbal nyaeta budak awewe.”
Babarengan           : “Enya mbah.”
         



Isukannana Kang Daniel jeung Lee Sumiyati angkat ka tempat Mbah Mangset deui keur menuhan syarat nu disuruh ku Mbah Mangset.
Kang Daniel          : “Mbah abdi geus mawa syarat nu mbah menta.”
Mbah Mangset      : “Nanaonan iyee !!! Maneh mawa jubah hideung hungkul tapi teu mawa budak awewe !!!” (Ambeuk dukun)
Lee Sumiyati        : “Abdi kudu ngorbankeun budak awewe nu mana mbah ?”
Mbah Mangset      : “Nu paling boh…ehh, nu paling geulis maksudna.”
Kang Daniel          : “Mun nu paling geulis sih anak nu kahiji, lamun nu paling bohayy anak kadua.”
Mbah Mangset      : “Ya eunggeus anu paling geulis weh.”

          Di bumi, Kang Daniel sareng Lee Sumiyati ngarencanakeun kumaha cara ngabunuh anakna nu kahiji.
Lee Sumiyati         : “Kang, kumaha tiasa urang ngabunuh anak sorangan ?”
Kang Daniel          : “Iyeu kudu dijalankeun supaya kaluarga teu melarat deui.”
          Isukannana…
Lisayati                 : “Gua kamari anyar jadian..”
Yoonayati            : “Aya sia nu deudeuh ka maneh !!! Oh heuheu poho abdi maneh pan si Bohayyy.”
Jennieyati              : “Geus atuh ! teu sae ari poyok-poyokan wae !”

          Ujug-ujug ti arah tukang aya nu ngahantam awak Jennieyati sampe sampe Jennieyati jatoh sambil pingsan.
Babarengan           : “Teh Jennieyati awassss !!!”
Jennieyati              : “Aaaaa…”
Yoonayati             : “Teh Jennieyati hudang the hudang.”
Lisayati                 : “Teh Lisayati telpon Daddy weh ya ca ?”
Yoonayati             : “Enggeus atuh telpon Daddy weh, buruan teh !”
Lisayati                 : “Daddy teh Jennieyati katabrak motor di deket sakolahan.”
Kang Daniel          : “Naonn ? Kok bisa ? Daddy keudeung deui ka ditu kabetulan Daddy lagi dekeut sakola.”
Lisayati                 : “Nya atuh, Daddy buruannya.”
Kang Daniel          : “Enya.”
          Nepi di ditu Kang Daniel langsung mawa Jennieyati ka Mbah Mangset pikeun dijadikeun tumbal.
Kang Daniel          : “Lisayati, Yoonayati pulang weh engke Daddy nu mawa teh Jennieyati ka rumah sakit.”
Babarengan           : “Ok Daddy.”
Nepi weh si Kang Daniel di imah Mbah Mangset.
Lee Sumiyati        : “Mbah abdi geus mawa budak awewe untuk Mbah.”
Mbah Mangset      : “Whaaaa, alus alus ari maneh geus mawa budak awewe éta. Engke peuting maneh geus bisa ngepet.”
Babarengan           : “Enya Mbah.”

          Di tengah peuting Kang Dabiel ngarubah dirina jadi babi pikeun ngambil parabotan berharga para warga. Tapi isukannana sakabeh warga kaget lantaran parabotan berhargana leungit kabeh. Salah sahijina nyaeta warung Park Rosencoh jeung Park Yukintih.
Park Rosencoh      : “Kira-kira saha anu nyokot acis urang nya Ntih ?”
Park Yukintih       : “Teu nyaho atuh, tapi ngomong-ngomong kaluarga si Kang Daniel kok jadi beunghar geuningan tiasa meuli mobil, imahna anyar deui jadi kos istana kitu.”
Park Rosencoh      : “Ehhh maneh teu boleh shuudzon, ehh tapi heueu nya jadi ageung kitu imahna.”
Park Yukintih       : “Tadi katana teu boleh shuudzon tapi satuju oge.”
Park Rosencoh      : “Heheheheheh.”

          Kaluarga Kang Daniel jadi makin kaya lantaran ngalakukeun kagiatan nu teu halal nyaeta ngepet. Beberapa bulan kamudian Kang Daniel jeung Lee Sumiyati dipanggil deui ku Mbah Mangset ka Imahna.
Lee Sumiyati        : “Aya naon deui sih Mbah Mangset manggil abdi ka dieu, abdi  pan geus jadi orang kaya.”
Mbah Mangset      : “Gede hulu amat sia, geus jadi orang beunghar teu inget ka urang. Kalian urang panggil kadieu lantaran urang menta deui budak awewe maneh !!”
Kang Daniel          : “Pan kamari geus dibere budak awewe nu geulis.”
Mbah Mangset      : “Urang hoyong deui budak awewe nu bohayy tea.”
Lee Sumiyati        : “Tapi eta budak awewe abdi Mbah, apa abdi kudu ngorbankeun deui ?”
Mbah Mangset      : “Mung maneh hayang terus jadi beunghar maneh kudu nurutkeun sakabeh syarat nu Mbah menta, tetapi mung maneh teu nurutkeun naon nu Mbah menta maneh bakal ngarasakeun akibatna !!!!! Whaaahaaa.”
Babarengan           : “Enya Mbah.”

          Kang Daniel jeung Lee Sumiyati mulai ngarancanakeun cara ngabunuh anak kaduana nyaeta si Bohayy. Tapi Park Rosencoh, Park Yukintih, jeung Pa Ustad mulai curiga dengan gerak-gerik Kang Daniel jeung Lee Sumiyati.
Pa Ustad               : “Assalamualaikum, ibu-ibu abdi rek nanya Pa Daniel dimananya ti kamari teu katempoan di masjid atawa di kampung ?”
Park Rosencoh      : “Waalaikumsalam Pa Ustad memang ti minggu kamari Pa Daniel teu katempoan.”
Park Yukintih       : “Anehna unggal poé aya wae parabotan anyar anu dikirim ka imah Pa Daniel, apa Pa Daniel ngepet nya ?”
Pa Ustad               : “Astagfirullah, teu boleh shuudzon ka tatangga sorangan.”
Park Yukintih        : “Hampura Pa Ustad, tapi abdi yakin mereka ngalakukeun eta.”
Park Rosencoh      : “Kumaha mung kita nyelidikin mereka engke peuting ?”
Park Yukintih        : “Abdi satuju !!!!”
Pa Ustad               : “Baiklah, untuk ngabuktikeun kabenarannana kita kudu nyelidiki mereka engke peuting.”

          Peutingna Kang Daniel jeung Lee Sumiyati mulai rencana ngabunuh anak kaduana.
Kang Daniel          : “Buru kita lakukeun ayeuna mumpung geus peuting.”
Lee Sumiyati         : “Buru.”
Kang Daniel          : “Lisayati meserkeun Daddy inuman di warung sabeulah !!”
Lisayati                 : “Ok Daddy, mana acisna ? “
Kang Daniel          : “Yeu Yeu acisna…” (Bari acisna)
          Di jalan nuju warung, aya motor anu nabrak Lisayati akhirna Lisayati pupus.
Kang Daniel          : “Lee, jaga lilin nya !”
Lee Sumiyati         : “Sipp.”
          Ternyata kagiatan manehna geus kanyahoan ku Pa Ustad.
Park Yukintih        : “Tah pan bener maranehna teh ngepet.”
Pa Ustad               : “Astagfirullahaladzim, iyeu kudu urang cegah.”
Park Rosencoh      : “Bener Pa Ustad.”

          Saenggeus kitu Pa Ustad, Park Yukintih, Park Rosencoh nyamperkeun Kang Daniel jeung Lee Sumiyati nu keur nuju ka imah Mbah Mangset.
Pa Ustad               : “Maraneh ngapain di dieu ngorbankeun budak sorangan demi kapentingan maraneh sorangan.” (Hadist tentang ieu)
Lee Sumiyati        : “Ehh Pa Ustad urang ngalakukeun iyeu teh supados urang jadi beunghar.”
Kang Daniel          : “Enya, teu kudu nyaramahan urang kitu !!”
Park Rosencoh      : “Ngepet kok sampe ngorbankeun si Bohayy.”
Kang Daniel          : “Teu kudu sirik kitu deh, abdi ge nyaho maneh teh orang melarat.”
Lee Sumiyati         : “Geus yukk balik weh.”

          Saenggeus balik ka imah, Kang Daniel jeung Lee Sumiyati ngarasakeun hal-hal anu aneh jeung ngarasa aya nu nuturan maranehna.
Kang Daniel          : “Lee asaan kos aya anu nuturan urang nya.”
Jennieyati              : “Abdi pan nu ngikutan Daddyy….”
Kang Daniel          : “Lee  kok nyalukan abdi Daddy sih ?”
Lee Sumiyati         : “Saha oge anu nyalukan maneh Daddy teu sudi yaa.”
Lisayati                 : “Halllooo mamaa akuuu aaaa…a…a….aaaa….”
Babarengan           : (Nengok ka tukang) “Whaaaaaaaha..”

          Gagara peuting eta Kang Daniel jeung Lee Sumiyati di hantui oleh kadua anakna. Peuting kaisukannana Kang Daniel ngubah dirina jadi babi lantaran Kaluarga Kang Daniel teu bisa merean tumbal deui ka Mbah Mangset.
          Lee Sumiyati pun nyesel jeung buru-buru tobat jeung ngaikhlaskeun suamina jadi babi.